Senin, 14 November 2011


1.      PERBEDAAN KRITIK EKSTERN DAN KRITIK INTERN
Kritik ekstern lebih menitik beratkan pada originalitas bahan yang digunakan untuk membuat dokumen, sedangkan kritik Intern lebih menitik beratkan pada pertimbangan kebenaran isi sumber atau dokumen. Dalam melakukan kritik (baik ekstern maupun intern) seorang sejarawan hendaknya memperhatikan cara-cara dalam pembuktiannya.
A.    Cara untuk membuktikan originalitas bahan dalam kritik ekstern:
a.       Membuktikan bahwa sumber yang dikumpulkan relevan dengan kebbutuhan sejarawan;
b.      Melacak apakah sumber-sumber yang dikumpulkan tersebut otentik, asli, turunan, atau  bahkan sudah dipalsukan? Hal ini dsapat dilakukan dengan cara melacak latar belakang dari sumber itu, apakah memiliki tujuan tertentu dalam pembuatannya, seperti: keputusan terhadap status propaganda, pemberian suatu anugerah tertentu dari penguasa, perjanjian,  perdagangan, keputusan terhadap suatu status tertentu, dan lain-lain;
c.       Bila suber itu merupakan sumber turunan, maka sebisa mungkin seorang sejarawan harus melacak sehingga mengetahui “silsilah” teks dalam sumber tersebut, kemudian mengkaji kesalahan-kesalahan atau kecacatan-kecacatannya dan kemudian membetulkannya;
d.      Melacak utuh tidaknya sumber, sehingga informasi yang didapatkan benar-benar akurat
B.     Carauntuk membuktikan kebenaran isidalam kritik intern:
a.       Mempelajari jenis dan tipe tulisan yang digunakan dalam menulis sumber
b.      Bila sumber itu ditulis dengan kasara dan bahasa yang sudah tidak digunakan lagi di zaman sekarang, maka sejarawan harus melakukan hal berikut:
·         membeca sumber
·         menyalin hasil bacaan sebagimana adanya kedalam tulisan lain (transliterasi)
·         menyalin hasil transliterasi sesuai dengan kaidah bahasa yang bersangkutan, dengan memperhatikan tanda baca, vokal, konsonan, dan lain-lain
·         menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
c.       mempelajari berbagai aspek kebahsaan yang digunakan dalam sumber sejarah, misalnya:
·         tanda bahasa
·         perbendaharaan bahasa
·         ungkapan atau idiom
d.      mempelajari berbagai aspek yang berkaitan dengan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain dengan menggunakan ilmu bantu sejarah
e.       mempelajari keterkaitan satu sumber dengan sumber yang lainnya
f.       melakukan penelitian intrinsik terhadap isi sumber untuk menentukan sifat akuratbinformasi atau data-data sejarah yang diberikan
g.      mengusut hubungan intrinsik antar beebagai fakta yang diperoleh dengan cara membendingkan fakta satu dengan fakta lainnya
2.      MEMPELAJARI (DAN MENGAJAR) TEKNIK-TEKNIK SEJARAH OLEH LOUIS GATSHAL
Dalam mempelajari sejarah, ada beberapa alasan bagi seseorang untuk melakukannya:
a.       Rasa ungin tahu akan masa lampau dirinya, keluarga, maupun lingkunganya
b.      Rasa ingin tahu akan latar belakab sosial maupun intelaktual orang lain
c.       Harapan untuk dapat memecahkan masalah-masalah mutakhir dengan berkiblat pada sejarah masa lampau
d.      Untuk mendalami suatu periode mas lampau agar lebih memahami masa lampau itu sendiri
Konsepsi yang  lazim mengenai sejarah
            Seorang pemula cenderung menggambarkan bahwa penelitian sejarah terdiri atas  seleksi bahan-bahan dari berbagai buku atau artikel yang disusun kembeli menjadi buku atau artikel lain yang lebih panjang dan lebih lengkap. Padahal sebenarnya sejarah juga merupakan suatu metode yang dipergunakan seseorang untuk menemukan peninggalan-peninggalan dan saksi-saksi mengenai suatu episode sejarang yang dapat menjadi bukti yang relevan sehingga dapat mengungkapkan kebenaran masa lampau yang dapat dipercaya.
Agar mahasiswa mau  dan mampu melakukan penelitian sejarah, maka perlu adanya dorongan untuk menulis dan mengungkapkan rasa keingin tahuannya akan sesuatu. Menurut Lous Gatshal, teknik dalam penelitian sejarah antara lain:
a.       Memilih subjek penelitian
b.      Memilih alat bantu, bibliografis dan nasihat ahli
c.       Memposisikan diri seolah-olah sebagai editor majalah sejarah yang sudah memiliki pandangan hipotesis, artinya sejarawan harus memilah-milah sumber dan menilai sumber mana yang relevan dengan hipotesia data yang dibutuhkan
d.      Menentukan beberapa alat bantu bagi komposisi
e.       Menentukan kata yang tepat dan ungkapan yang  akurat untuk isi penelitian
f.       Melakukan identifikasi-identifikasi yang layak terhadap sumber, misal dalam penulisan gelar
g.      Mengedit sebuah dkumen. Dalam melakukan hal ini hendaknya dihindari pengutipan yang terlalu panjang dan terlalu sering
h.      Menghindarkan langgam yang dibuat-buat
i.        Menghindarkan ungkapan-ungkapan yang memperlihatkan proses-proses mental (unsur subyektifitas)
j.        Membuat draf atau kernagka pennulisan sejarah

3.      Sejarah sebagai ujian terhadap generalisasi-generalisasi sosiaologi
            Salah satu cara yang paling baik bagi sejarawan dalam memberikan sumbangan untuk mengerti masyarakat adalah dengan jalan menemukan kontradiksi-kontradiksi dan perkecualian-perkecualian dalam generalisasi-generalisasi ilmu sosial. Seorang generalisator mudah beranggapan bahwa perkecualian-perkecualian malahan membuktikan kebenaran dalilnya. Tapi kadang-kadang perkecualian merupakan satu-satunya jalan dari suatu jalan buntu logika. Karena beberapa ilmu sosial didasarkan atas contoh-contoh sejarah yang yang dipilih oleh sejarawan (atau oleh sarjana ilmu sosial sebagai sejarawan) hanya karena ia berminat pada pengertian itu atau dipengaruhi olehnya. Misalnya kasus di Indonesia adalah pemikiran Semaun terhadap komunisme. Semaun beranggapan bahwa ......
Dengan demikian, sejarawan menjadi dua kali lebih berguna dalam disiplin-disiplin yang berusaha mengerti masyarakat. Ia tidak hanya merupakan pencari data bagi ilmuan siosial, tetapi juga melakukan pengecekan terhadap validitas daripada pengerian atau konsep ilmu sosial bagi masyarakat.
4.      INTI SARI METODE SEJARAH
Metode merupakan seperangkat prosedur, alat atau piranti yang digunakan (sejarawan) dalam tugas meneliti dan menyusun sejarah.
Langkah-langkah dalam metode sejarah adalah sebagai berikut:
a.       Heuristik, yaitu proses mencari dan meneukan sumber-sumber yang diperlukan
b.      Kritik (pengujian) terhadap sumber yang terdiri dari kritik ekstern dan kritik intern
c.       Interpretasi (penafsiran) , yaitu  proses mencari keterkaitan antara berbagai fakta yang telah ditemukan kemudian menafsirkannya
d.      Historiografi, yaitu tahap penulisan sejarah. Pada tahap ini fakta-fakta yang telah ditafsirkan disajikan secara tertulis sebagai kisah atau cerita sejarah.

Konflik intern Agama Islam ( Masa wali sanga)
Latar Belakang
            Kehidupan masyarakat beragama tidak dapat dipisahkan dari sebuah gesekan gesekan baik antar agama maupun sesama penganut agama tersebut. Terlebih lagi agama islam yang merupakan agama mayoritas di bumi pertiwi ini, tidak bisa lepas dari adanya konflik internal. Dilihat dari asal mula penyebaran agama islam ini dapat ditarik garis lurus akan konflik yang senantiasa terjadi. Dalam sejarah disebutkan bahwa Islam disebarkan oleh para pedagang dari Gujarat dan Persia melalui kota – kota pesisir. Islam berkembang didaerah pesisir terlebih dahulu dan mengalami perkembangan lebih mendalam kearah pedalaman. Dalam penyebaran ke wilayah pedalaman bisa dilihat dari perpindahan pusat kerajaan demak yang dulunya berada di pesisir ke pedalaman.

Rumusan Masalah
            a. Mengetahui asal mula penyebaran  islam di Indonesia (jawa)
            b. Mengetahui aliran – aliran islam yang berkembang di Indonesia (jawa)
            c. Mengetahui cara penyebaran islam  di jawa
            d. Mengetahui sebab – sebab Konflik dalam kehidupan masyarakat islam
            e. Mengetahui peran suatu pemuka agama dalam perannya dalam munculnya  suatu konflik

Tinjauan Pustaka
            Penelitian ini mengambil dari  literature – literature yang dianggap relevan dengan masalah yang dibahas yakni tentang Islam dan Konflik.
-          Benturan Budaya Islam  : Puritan dan Sinkretis @ 2010 Sutiyono

Metodologi  Penelitian
            Tahap pertama Heuristik , yakni pengumpulan data – data dari berbagai buku – buku serta literature yang relevan.
Tahap Kedua Kritik, dilakukan kritik intern dan ekstern dari data yang diambil sebagai bahan.
Tahap Ketiga Intrepetasi,  mencari keterkaitan antar fakta yang sudah ditemukan dan menafsirkannya.
Tahap Kempat Historiografi, Penulisan yang dilakukan sehingga tercipta suatu penulisan tentang Agama Islam dan Konflik.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar