1. PERBEDAAN
KRITIK EKSTERN DAN KRITIK INTERN
Kritik
ekstern lebih menitik beratkan pada originalitas bahan yang digunakan untuk
membuat dokumen, sedangkan kritik Intern lebih menitik beratkan pada
pertimbangan kebenaran isi sumber atau dokumen. Dalam melakukan kritik (baik
ekstern maupun intern) seorang sejarawan hendaknya memperhatikan cara-cara
dalam pembuktiannya.
A. Cara
untuk membuktikan originalitas bahan dalam kritik ekstern:
a. Membuktikan
bahwa sumber yang dikumpulkan relevan dengan kebbutuhan sejarawan;
b. Melacak
apakah sumber-sumber yang dikumpulkan tersebut otentik, asli, turunan,
atau bahkan sudah dipalsukan? Hal ini
dsapat dilakukan dengan cara melacak latar belakang dari sumber itu, apakah
memiliki tujuan tertentu dalam pembuatannya, seperti: keputusan terhadap status
propaganda, pemberian suatu anugerah tertentu dari penguasa, perjanjian, perdagangan, keputusan terhadap suatu status
tertentu, dan lain-lain;
c. Bila
suber itu merupakan sumber turunan, maka sebisa mungkin seorang sejarawan harus
melacak sehingga mengetahui “silsilah” teks dalam sumber tersebut, kemudian
mengkaji kesalahan-kesalahan atau kecacatan-kecacatannya dan kemudian
membetulkannya;
d. Melacak
utuh tidaknya sumber, sehingga informasi yang didapatkan benar-benar akurat
B. Carauntuk
membuktikan kebenaran isidalam kritik intern:
a. Mempelajari
jenis dan tipe tulisan yang digunakan dalam menulis sumber
b. Bila
sumber itu ditulis dengan kasara dan bahasa yang sudah tidak digunakan lagi di
zaman sekarang, maka sejarawan harus melakukan hal berikut:
·
membeca sumber
·
menyalin hasil bacaan
sebagimana adanya kedalam tulisan lain (transliterasi)
·
menyalin hasil
transliterasi sesuai dengan kaidah bahasa yang bersangkutan, dengan
memperhatikan tanda baca, vokal, konsonan, dan lain-lain
·
menterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia
c. mempelajari
berbagai aspek kebahsaan yang digunakan dalam sumber sejarah, misalnya:
·
tanda bahasa
·
perbendaharaan bahasa
·
ungkapan atau idiom
d. mempelajari
berbagai aspek yang berkaitan dengan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan
lain-lain dengan menggunakan ilmu bantu sejarah
e. mempelajari
keterkaitan satu sumber dengan sumber yang lainnya
f. melakukan
penelitian intrinsik terhadap isi sumber untuk menentukan sifat akuratbinformasi
atau data-data sejarah yang diberikan
g. mengusut
hubungan intrinsik antar beebagai fakta yang diperoleh dengan cara
membendingkan fakta satu dengan fakta lainnya
2. MEMPELAJARI
(DAN MENGAJAR) TEKNIK-TEKNIK SEJARAH OLEH LOUIS GATSHAL
Dalam
mempelajari sejarah, ada beberapa alasan bagi seseorang untuk melakukannya:
a. Rasa
ungin tahu akan masa lampau dirinya, keluarga, maupun lingkunganya
b. Rasa
ingin tahu akan latar belakab sosial maupun intelaktual orang lain
c. Harapan
untuk dapat memecahkan masalah-masalah mutakhir dengan berkiblat pada sejarah
masa lampau
d. Untuk
mendalami suatu periode mas lampau agar lebih memahami masa lampau itu sendiri
Konsepsi
yang lazim mengenai sejarah
Seorang pemula cenderung
menggambarkan bahwa penelitian sejarah terdiri atas seleksi bahan-bahan dari berbagai buku atau
artikel yang disusun kembeli menjadi buku atau artikel lain yang lebih panjang
dan lebih lengkap. Padahal sebenarnya sejarah juga merupakan suatu metode yang
dipergunakan seseorang untuk menemukan peninggalan-peninggalan dan saksi-saksi
mengenai suatu episode sejarang yang dapat menjadi bukti yang relevan sehingga
dapat mengungkapkan kebenaran masa lampau yang dapat dipercaya.
Agar
mahasiswa mau dan mampu melakukan
penelitian sejarah, maka perlu adanya dorongan untuk menulis dan mengungkapkan
rasa keingin tahuannya akan sesuatu. Menurut Lous Gatshal, teknik dalam
penelitian sejarah antara lain:
a. Memilih
subjek penelitian
b. Memilih
alat bantu, bibliografis dan nasihat ahli
c. Memposisikan
diri seolah-olah sebagai editor majalah sejarah yang sudah memiliki pandangan
hipotesis, artinya sejarawan harus memilah-milah sumber dan menilai sumber mana
yang relevan dengan hipotesia data yang dibutuhkan
d. Menentukan
beberapa alat bantu bagi komposisi
e. Menentukan
kata yang tepat dan ungkapan yang akurat
untuk isi penelitian
f. Melakukan
identifikasi-identifikasi yang layak terhadap sumber, misal dalam penulisan
gelar
g. Mengedit
sebuah dkumen. Dalam melakukan hal ini hendaknya dihindari pengutipan yang
terlalu panjang dan terlalu sering
h. Menghindarkan
langgam yang dibuat-buat
i.
Menghindarkan
ungkapan-ungkapan yang memperlihatkan proses-proses mental (unsur subyektifitas)
j.
Membuat draf atau
kernagka pennulisan sejarah
3. Sejarah
sebagai ujian terhadap generalisasi-generalisasi sosiaologi
Salah
satu cara yang paling baik bagi sejarawan dalam memberikan sumbangan untuk
mengerti masyarakat adalah dengan jalan menemukan kontradiksi-kontradiksi dan
perkecualian-perkecualian dalam generalisasi-generalisasi ilmu sosial. Seorang
generalisator mudah beranggapan bahwa perkecualian-perkecualian malahan
membuktikan kebenaran dalilnya. Tapi kadang-kadang perkecualian merupakan
satu-satunya jalan dari suatu jalan buntu logika. Karena beberapa ilmu sosial
didasarkan atas contoh-contoh sejarah yang yang dipilih oleh sejarawan (atau
oleh sarjana ilmu sosial sebagai sejarawan) hanya karena ia berminat pada
pengertian itu atau dipengaruhi olehnya. Misalnya kasus di Indonesia adalah
pemikiran Semaun terhadap komunisme. Semaun beranggapan bahwa ......
Dengan
demikian, sejarawan menjadi dua kali lebih berguna dalam disiplin-disiplin yang
berusaha mengerti masyarakat. Ia tidak hanya merupakan pencari data bagi ilmuan
siosial, tetapi juga melakukan pengecekan terhadap validitas daripada pengerian
atau konsep ilmu sosial bagi masyarakat.
4. INTI
SARI METODE SEJARAH
Metode
merupakan seperangkat prosedur, alat atau piranti yang digunakan (sejarawan)
dalam tugas meneliti dan menyusun sejarah.
Langkah-langkah
dalam metode sejarah adalah sebagai berikut:
a. Heuristik,
yaitu proses mencari dan meneukan sumber-sumber yang diperlukan
b. Kritik
(pengujian) terhadap sumber yang terdiri dari kritik ekstern dan kritik intern
c. Interpretasi
(penafsiran) , yaitu proses mencari keterkaitan
antara berbagai fakta yang telah ditemukan kemudian menafsirkannya
d. Historiografi,
yaitu tahap penulisan sejarah. Pada tahap ini fakta-fakta yang telah
ditafsirkan disajikan secara tertulis sebagai kisah atau cerita sejarah.
Konflik intern Agama Islam ( Masa wali sanga)
Latar Belakang
Kehidupan
masyarakat beragama tidak dapat dipisahkan dari sebuah gesekan gesekan baik
antar agama maupun sesama penganut agama tersebut. Terlebih lagi agama islam
yang merupakan agama mayoritas di bumi pertiwi ini, tidak bisa lepas dari
adanya konflik internal. Dilihat dari asal mula penyebaran agama islam ini
dapat ditarik garis lurus akan konflik yang senantiasa terjadi. Dalam sejarah
disebutkan bahwa Islam disebarkan oleh para pedagang dari Gujarat dan Persia melalui
kota – kota pesisir. Islam berkembang didaerah pesisir terlebih dahulu dan
mengalami perkembangan lebih mendalam kearah pedalaman. Dalam penyebaran ke
wilayah pedalaman bisa dilihat dari perpindahan pusat kerajaan demak yang
dulunya berada di pesisir ke pedalaman.
Rumusan Masalah
a. Mengetahui
asal mula penyebaran islam di Indonesia
(jawa)
b.
Mengetahui aliran – aliran islam yang berkembang di Indonesia (jawa)
c.
Mengetahui cara penyebaran islam di jawa
d. Mengetahui
sebab – sebab Konflik dalam kehidupan masyarakat islam
e.
Mengetahui peran suatu pemuka agama dalam perannya dalam munculnya suatu konflik
Tinjauan Pustaka
Penelitian
ini mengambil dari literature – literature
yang dianggap relevan dengan masalah yang dibahas yakni tentang Islam dan
Konflik.
-
Benturan Budaya
Islam : Puritan dan Sinkretis @ 2010
Sutiyono
Metodologi Penelitian
Tahap
pertama Heuristik , yakni pengumpulan data – data dari berbagai buku – buku serta
literature yang relevan.
Tahap Kedua Kritik, dilakukan kritik intern dan
ekstern dari data yang diambil sebagai bahan.
Tahap Ketiga Intrepetasi, mencari keterkaitan antar fakta yang sudah
ditemukan dan menafsirkannya.
Tahap Kempat Historiografi, Penulisan yang dilakukan
sehingga tercipta suatu penulisan tentang Agama Islam dan Konflik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar