Senin, 14 November 2011


1.      PERBEDAAN KRITIK EKSTERN DAN KRITIK INTERN
Kritik ekstern lebih menitik beratkan pada originalitas bahan yang digunakan untuk membuat dokumen, sedangkan kritik Intern lebih menitik beratkan pada pertimbangan kebenaran isi sumber atau dokumen. Dalam melakukan kritik (baik ekstern maupun intern) seorang sejarawan hendaknya memperhatikan cara-cara dalam pembuktiannya.
A.    Cara untuk membuktikan originalitas bahan dalam kritik ekstern:
a.       Membuktikan bahwa sumber yang dikumpulkan relevan dengan kebbutuhan sejarawan;
b.      Melacak apakah sumber-sumber yang dikumpulkan tersebut otentik, asli, turunan, atau  bahkan sudah dipalsukan? Hal ini dsapat dilakukan dengan cara melacak latar belakang dari sumber itu, apakah memiliki tujuan tertentu dalam pembuatannya, seperti: keputusan terhadap status propaganda, pemberian suatu anugerah tertentu dari penguasa, perjanjian,  perdagangan, keputusan terhadap suatu status tertentu, dan lain-lain;
c.       Bila suber itu merupakan sumber turunan, maka sebisa mungkin seorang sejarawan harus melacak sehingga mengetahui “silsilah” teks dalam sumber tersebut, kemudian mengkaji kesalahan-kesalahan atau kecacatan-kecacatannya dan kemudian membetulkannya;
d.      Melacak utuh tidaknya sumber, sehingga informasi yang didapatkan benar-benar akurat
B.     Carauntuk membuktikan kebenaran isidalam kritik intern:
a.       Mempelajari jenis dan tipe tulisan yang digunakan dalam menulis sumber
b.      Bila sumber itu ditulis dengan kasara dan bahasa yang sudah tidak digunakan lagi di zaman sekarang, maka sejarawan harus melakukan hal berikut:
·         membeca sumber
·         menyalin hasil bacaan sebagimana adanya kedalam tulisan lain (transliterasi)
·         menyalin hasil transliterasi sesuai dengan kaidah bahasa yang bersangkutan, dengan memperhatikan tanda baca, vokal, konsonan, dan lain-lain
·         menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
c.       mempelajari berbagai aspek kebahsaan yang digunakan dalam sumber sejarah, misalnya:
·         tanda bahasa
·         perbendaharaan bahasa
·         ungkapan atau idiom
d.      mempelajari berbagai aspek yang berkaitan dengan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain dengan menggunakan ilmu bantu sejarah
e.       mempelajari keterkaitan satu sumber dengan sumber yang lainnya
f.       melakukan penelitian intrinsik terhadap isi sumber untuk menentukan sifat akuratbinformasi atau data-data sejarah yang diberikan
g.      mengusut hubungan intrinsik antar beebagai fakta yang diperoleh dengan cara membendingkan fakta satu dengan fakta lainnya
2.      MEMPELAJARI (DAN MENGAJAR) TEKNIK-TEKNIK SEJARAH OLEH LOUIS GATSHAL
Dalam mempelajari sejarah, ada beberapa alasan bagi seseorang untuk melakukannya:
a.       Rasa ungin tahu akan masa lampau dirinya, keluarga, maupun lingkunganya
b.      Rasa ingin tahu akan latar belakab sosial maupun intelaktual orang lain
c.       Harapan untuk dapat memecahkan masalah-masalah mutakhir dengan berkiblat pada sejarah masa lampau
d.      Untuk mendalami suatu periode mas lampau agar lebih memahami masa lampau itu sendiri
Konsepsi yang  lazim mengenai sejarah
            Seorang pemula cenderung menggambarkan bahwa penelitian sejarah terdiri atas  seleksi bahan-bahan dari berbagai buku atau artikel yang disusun kembeli menjadi buku atau artikel lain yang lebih panjang dan lebih lengkap. Padahal sebenarnya sejarah juga merupakan suatu metode yang dipergunakan seseorang untuk menemukan peninggalan-peninggalan dan saksi-saksi mengenai suatu episode sejarang yang dapat menjadi bukti yang relevan sehingga dapat mengungkapkan kebenaran masa lampau yang dapat dipercaya.
Agar mahasiswa mau  dan mampu melakukan penelitian sejarah, maka perlu adanya dorongan untuk menulis dan mengungkapkan rasa keingin tahuannya akan sesuatu. Menurut Lous Gatshal, teknik dalam penelitian sejarah antara lain:
a.       Memilih subjek penelitian
b.      Memilih alat bantu, bibliografis dan nasihat ahli
c.       Memposisikan diri seolah-olah sebagai editor majalah sejarah yang sudah memiliki pandangan hipotesis, artinya sejarawan harus memilah-milah sumber dan menilai sumber mana yang relevan dengan hipotesia data yang dibutuhkan
d.      Menentukan beberapa alat bantu bagi komposisi
e.       Menentukan kata yang tepat dan ungkapan yang  akurat untuk isi penelitian
f.       Melakukan identifikasi-identifikasi yang layak terhadap sumber, misal dalam penulisan gelar
g.      Mengedit sebuah dkumen. Dalam melakukan hal ini hendaknya dihindari pengutipan yang terlalu panjang dan terlalu sering
h.      Menghindarkan langgam yang dibuat-buat
i.        Menghindarkan ungkapan-ungkapan yang memperlihatkan proses-proses mental (unsur subyektifitas)
j.        Membuat draf atau kernagka pennulisan sejarah

3.      Sejarah sebagai ujian terhadap generalisasi-generalisasi sosiaologi
            Salah satu cara yang paling baik bagi sejarawan dalam memberikan sumbangan untuk mengerti masyarakat adalah dengan jalan menemukan kontradiksi-kontradiksi dan perkecualian-perkecualian dalam generalisasi-generalisasi ilmu sosial. Seorang generalisator mudah beranggapan bahwa perkecualian-perkecualian malahan membuktikan kebenaran dalilnya. Tapi kadang-kadang perkecualian merupakan satu-satunya jalan dari suatu jalan buntu logika. Karena beberapa ilmu sosial didasarkan atas contoh-contoh sejarah yang yang dipilih oleh sejarawan (atau oleh sarjana ilmu sosial sebagai sejarawan) hanya karena ia berminat pada pengertian itu atau dipengaruhi olehnya. Misalnya kasus di Indonesia adalah pemikiran Semaun terhadap komunisme. Semaun beranggapan bahwa ......
Dengan demikian, sejarawan menjadi dua kali lebih berguna dalam disiplin-disiplin yang berusaha mengerti masyarakat. Ia tidak hanya merupakan pencari data bagi ilmuan siosial, tetapi juga melakukan pengecekan terhadap validitas daripada pengerian atau konsep ilmu sosial bagi masyarakat.
4.      INTI SARI METODE SEJARAH
Metode merupakan seperangkat prosedur, alat atau piranti yang digunakan (sejarawan) dalam tugas meneliti dan menyusun sejarah.
Langkah-langkah dalam metode sejarah adalah sebagai berikut:
a.       Heuristik, yaitu proses mencari dan meneukan sumber-sumber yang diperlukan
b.      Kritik (pengujian) terhadap sumber yang terdiri dari kritik ekstern dan kritik intern
c.       Interpretasi (penafsiran) , yaitu  proses mencari keterkaitan antara berbagai fakta yang telah ditemukan kemudian menafsirkannya
d.      Historiografi, yaitu tahap penulisan sejarah. Pada tahap ini fakta-fakta yang telah ditafsirkan disajikan secara tertulis sebagai kisah atau cerita sejarah.

Konflik intern Agama Islam ( Masa wali sanga)
Latar Belakang
            Kehidupan masyarakat beragama tidak dapat dipisahkan dari sebuah gesekan gesekan baik antar agama maupun sesama penganut agama tersebut. Terlebih lagi agama islam yang merupakan agama mayoritas di bumi pertiwi ini, tidak bisa lepas dari adanya konflik internal. Dilihat dari asal mula penyebaran agama islam ini dapat ditarik garis lurus akan konflik yang senantiasa terjadi. Dalam sejarah disebutkan bahwa Islam disebarkan oleh para pedagang dari Gujarat dan Persia melalui kota – kota pesisir. Islam berkembang didaerah pesisir terlebih dahulu dan mengalami perkembangan lebih mendalam kearah pedalaman. Dalam penyebaran ke wilayah pedalaman bisa dilihat dari perpindahan pusat kerajaan demak yang dulunya berada di pesisir ke pedalaman.

Rumusan Masalah
            a. Mengetahui asal mula penyebaran  islam di Indonesia (jawa)
            b. Mengetahui aliran – aliran islam yang berkembang di Indonesia (jawa)
            c. Mengetahui cara penyebaran islam  di jawa
            d. Mengetahui sebab – sebab Konflik dalam kehidupan masyarakat islam
            e. Mengetahui peran suatu pemuka agama dalam perannya dalam munculnya  suatu konflik

Tinjauan Pustaka
            Penelitian ini mengambil dari  literature – literature yang dianggap relevan dengan masalah yang dibahas yakni tentang Islam dan Konflik.
-          Benturan Budaya Islam  : Puritan dan Sinkretis @ 2010 Sutiyono

Metodologi  Penelitian
            Tahap pertama Heuristik , yakni pengumpulan data – data dari berbagai buku – buku serta literature yang relevan.
Tahap Kedua Kritik, dilakukan kritik intern dan ekstern dari data yang diambil sebagai bahan.
Tahap Ketiga Intrepetasi,  mencari keterkaitan antar fakta yang sudah ditemukan dan menafsirkannya.
Tahap Kempat Historiografi, Penulisan yang dilakukan sehingga tercipta suatu penulisan tentang Agama Islam dan Konflik.     

Senin, 31 Oktober 2011

“MASALAH OTENTISITAS ATAU KRITIK EKSTERN”
kelompok VI metodologi penelitian
 
Dalam pembahasan materi tersebut, terdapat sebuah bagan sebagai berikut:
SEMUA DOKUMEN
 
OTENTIK                 DOKUMEN SEJARAH
MENGAPA????????

Tidak semua dokumen sejarah bersifat otentik,ada beberapa dokumen yang sifatnya palsu atau menyesatkan.
DOKUMEN PALSU ATAU MENYESATKAN
Dalam menggali sumber sejarah terkadang terdapat dokumen yang bersifat palsu. Sebab-sebab dipalsukan, karena:
a.       Dipergunakan untuk Klaim yang palsu.
b.      Untuk dikomersialkan.
c.       Dipalsukan untuk motif-motif yang tidak begitu mengejar keuntungan
d.      Terkadang fakta sejarah hanya dianggap sebagai lelucon
e.       Dokumen yang sejati dipalsukan untuk menyesatkan orang yang sejaman tertentu, sehingga menyesatkan sejarawan-sejarawan sesudahnya.
MAKA DARI ITU, seorang Sejarawan HARUS SKEPTIS
Maksud dari pernyataan SEJARAHWAN harus SKEPTIS adalah bahwa sejarahwan hendaknya tidak mudah percaya (percaya begitu saja) dengan dokumen-dokumen yang mereka dapatkan. Hendaknya sejarahwan selalu mempertanyakan kembali kebenaran dari dokumen yang didapatkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran dokumen tersebut dan mencocokkannya dengan sumber-sumber terkait yang telah terbukti kebenarannya dan relevan dengan sumber tersebut.
UJI OTENTISITAS
            Menindaklanjuti agar sejarahwan berhati-hati dalam pemilihan dokumen, maka diperlukan pengujian terhadap otentisitas dokumen yang akan digunakan sebagai sumber penulisan sejarah. Berikut adalah langkah-langkah dalam uji otentisitas dokumen, antara lain:
a.       Sejarawan harus menggunakan ujian atau tes yang biasa dipergunakan dalam kepolisian atau kehakiman (artinya sejarahwan harus dengan detail meneliti kebenaran seluruh komponen dalam dokumen yang akan dijadikan sebagai sumber)
b.      Menerka-nerka seakurat mungkin tanggal pembuatan dokumen. (tanggal pembuatan dokumen yang akan digunakan sebagai sumber harus benar-benar diteliti, apakah sesuai dengan aslinya atau tidak. Lebih-lebih jika dokumen tersebut adalah dokumen yang dibuat sezaman dengan peristiwa yang diceritakan di dalamnya, maka harus diteliti apakah tanggal pembuatan dokumen dan tanggal peristiwa sesuai atau tidak)
c.       Menerka-nerka seakurat mungkin pengarangnya (sejarahwan juga harus mampu mengidentifikasi secara pasti pengarang dari pembuat dokumen, sebab sangat rawan pengarang dokumen diubah atau dipalsukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab)
d.      Menyelidiki materi, apakah Anakronistis atau tidak, seperti kertas, usia tinta dsb.
e.       Melakukan serangkaian identifikasi terhadap dokumen.

DOKUMEN YANG CACAT
Ada tiga sebab mengapa suatu dokumen dapat mengalami cacat, yaitu:
a.       Sering dipalsukan (maksudnya, dokumen tersebut sering berpindah tangan sehingga memungkinkan ada pemalsuan baik dari tanggal, pengarang, maupun isi dokumen)
b.      Penggandaan terhadap dokumen asli (dikatakan cacat sebab apabila sebuah dokumen sering digandakan maka dikhawatirkan terjadi pemalsuan dan kerusakan terhadap bahan dan bentuk asli dokumen)
c.       Penurunan dokumen yang tidak hati-hati (artinya, kemungkinan adanya kesalahan pada saat dokumen asli disalin/diketik ulang dengan tidak hati-hati)
Hal-hal di atas sangat perlu untuk diperhatikan, sebab dalam dokumen yang cacat terkadang terdapat menghilangkan sebagian isi dokumen yang asli, sehingga sangat memungkinkan terjadi kesalahan penafsiran terhadap dokumen yang asli.
SEHINGGA, sejarawan HARUS melakukan Tes Keakuratan yang biasa dilakukan para ahli Filologi yang disebut dengan KRITIK TEKS.
RESTORASI TEKS
Langkah-langkah dalam merestorasi teks dalam dokumen:
a.       Mengumpulkan sebanyak-banyaknya turunan-turunan teks yang dianggap meragukan.
b.      Membandingkan antar turunan satu sama lain
c.       Mengidentifikasi kesalahan yang mungkin ada
d.      Merumuskan hipotesis yang seakurat mungkin terhadap isi dari turunan-turunan teks tersebut

ILMU BANTU SEJARAH
a.       Genealogi
b.      Numismatik
c.       Ilmu heraldik
d.      Bibliografi
e.       Lexikografi
f.       Egyptologi
g.      Papirologi
h.      Assiriologi
i.        Kritik Injil
j.        Filologi
k.      Epigrafi klasik
l.        Paleografi
m.    Sfragistik/ sigillografi
n.      dsb

KRONOLOGI SEBAGAI ILMU BANTU
Digunakan untuk memudahkan pemecahan masalah pengukuran waktu. Dengan cara :
Menerangkan sistem tarikh secara cermat.

PENYIMPANGAN DIANTARA SUMBER-SUMBER
Dijumpai pada Kopian atau turunan-turunan Dokumen atau manuskrip yang sama tapi tidak identik.
Sejarawan HARUS mencoba selayaknya sebagai ahli filologi

MASALAH ARTI: SEMANTIK
a.       Mengidentifikasi arti dari pelbagai kata-kata yang sukar dalam dokumen atau manuskrip
b.      Penggunaan semua pengetahuan yang dimiliki sejarawan mengenai periode dan saksi
Tugas sejarawan adalah Untuk Mengerti, bukan hanya arti secara formil dari kata-kata dokumen, tetapi juga apa saja yang disampaikan atau dimaksudkan oleh saksi.

MASALAH ARTI : HERMENEUTIK
a.       Digunakan untuk menafsirkan suatu kata yang dianggap mengalami ambiguitas baik yang mungkin dilakukan secara sengaja ataupun tidak
b.      Menjadi sangat kuat apabila diduga bahwa ada maksud kesengajaan dalam menyembunyikan arti

IDENTIFIKASI PENGARANG DAN TANGGAL
Inti dari Kritik Extern adalah penafsiran tanggal dokumen dan identifikasi berdasarkan hipotesis yang mungkin juga yang dimaksudkan pengarangnya

Senin, 24 Oktober 2011


Hal yang dianggap relevan : adalah hal yang mampu menjawab suatu pertanyaan
Alur pemutusan relevan tidaknya suatu data sejarah
Topik     proposisi       hipotesa        tesa
Sifat relevan hanya berlaku bagi proposisi yang bersifat  kisah, deskriptif, atau kausal

Selasa, 18 Oktober 2011


Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan

Bentuk kemiskinan ada dua yaitu miskin iman dan miskin material. Demikian pula kebodohan ada dua macam kebodohan dalam beragama dan kebodohan dalam hal dunia. Dua masalah ini memiliki hubungan konotasi yang sangat erat, kemiskinan bisa menimbulkan kebodohan sebaliknya kebodohan bisa menyebabkan kemiskinan.

Allah mengutus Rasullah shalallahu ’alaihi wasalam untuk menupas kebodohan dalam beragama terlebih khusus dalam masalah keyakinan. Karena keyakinan sangat menentukan seseorang tersebut dalam menjalankan tugasnya di dunia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Orang-orang Quraisy disebut sebagai orang jahiliyah, bukan karena bodoh dalam hal ekonomi, tetapi karena bodoh dalam beragama.
Allah menyebutkan dalam surat al Quraisy mereka telah memiliki sistem perdangan lintas negara yaitu syam dan Yaman.
  لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) [قريش/1-4]
”Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy: 1-4)
Sabda Rasulullah shalallahu ’alaihi wasalam:
((فوالله لا الفقر أخشى عليكم ولكن أخشى عليكم أن تبسط عليكم الدنيا كما بسطت على من كان قبلكم فتنافسوها كما تنافسوها وتهلككم كما أهلكتهم)) متفق عليه.
عن عائشة رضي الله عنها : أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول ((اللهم إني أعوذ بك من شر فتنة الغنى وأعوذ بك من فتنة الفقر)). متفق عليه.
Diantara sebab kemiskinan material adalah kemiskinan dalam keimanan, sebagaimana Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [الأعراف/96]
“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا [الطلاق/2، 3]
”…Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا [الطلاق/4]
”Darang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)
Kebodohan dalam beragama bisa menyebabkan kemiskinan dibawah ini beberapa contoh:
  1. Perayaan pembuangan sesajian dengan biaya yang cukup lumayan besar.
  2. Pelaksanaan tahlilan bagi seseorang yang meninggal.
  3. Biaya operasional untuk penupasan berpagai penyakit masyarakat seperti narkoba, judi dan pergaulan bebas.
  4. Biaya pembelian rokok dan subsidi pengaobatannya.
  5. Aliran dan pemahaman sesat yang memfaatkan untuk mengeruk keuntungan duniawi.
Diantara sebab kemiskinan yang lain adalah sifat malas dan lemahnya sifat tawaakal dalam tubuh kita, sebagaimana dalam sabda rasulullah shalallahu ’alaihi wasalam :
عن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول (لو أنكم توكلتم على الله حق توكله. لرزقكم كما يرزق الطير . تغدثو خماصا وتروح بطانا( رواه الترمذي وابن ماجه وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح.
Dalam hal menupas kebodohan dalam Islam, ayat yang pertama sekali diturunkan Allah memerintahkan untuk belajar dan menuntut ilmu:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) [العلق/1-5]
”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-’Alaq: 1-5)
  • Allah mengangkat orang-orang yang berilmu sebagai saksi bahwa tiada yang berhak diibadati kecuali Allah semata.
Allah swt memuji orang-orang berilmu dalam firmanNya yang mulia:
{شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْطِ} (آل عمران: 18)
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)
  • Mencari ilmu yang bermamfat adalah perintah Allah kepada Nabi yang paling mulia dan penghulu segala rasul, yaitu Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana Allah perintahkan Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk selalu berdo’a supaya ilmunya ditambah Allah, disebutkan Allah dalam firmanNya yang mulia;
 {وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً} (طـه: 114)
“Katakanlah (wahai Muhammad): Ya tuhanku !, tambahlah ilmuku”.
  • Allah memuji Orang yang berilmu, bahwa mereka adalah hamba yang paling takut kepada Allah.
Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang mulia ;
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ} (فاطر: 28)
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya adalah para ulama”.
  • Allah mengangkat derajat orong-orang yang berilmu di dunia dan di akhirat.
Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanNya.
{ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ}(المجادلة: 11)
“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang diberi ilmu (diangkat lagi) beberapa derajat”.
Keutamaan ilmu dalam As Sunnah
Banyak hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan ilmu, namun dalam tulisan singkat ini kita sebutkan beberapa hadits saja.
Dinyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu darda’ Ra. Ia berkata; aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((من سلك طريقا يبتغي فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة وإن الملائكة لتضع  أجنحتها رضاء لطالب العلم وإن العالم ليستغفر له من في السماوات ومن في الأرض حتى الحيتان في الماء وإن فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب إن العلماء ورثة الأنبياء إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر)).
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah telah membentangkan baginya jalan kesurga, sesungguhnya para malaikat meletakan sayap-sayap mereka (dengan) penuh keredhaan bagi penuntut ilmu, sesungguhnya penghuni langit dan bumi sekalipun ikan dalam air memohon ampunan untuk seorang alim, sesungguhnya keutamaan seorang alim diatas seorang ahli ibadah seperti keutaman (cahaya) bulan purnama atas (cahaya) bintang-bintang, sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambilnya berarti ia telah mendapat bagian yang cukup banyak”. (Hadits hasan lihgairihi, dirwayatkan oleh; At Tirmizi, Abu Daud, Ibnu Majah, dll).
  • Ilmu adalah salah satu amalan yang tidak terputus pahalanya, sekalipun tulang belulang pemiliknya telah hancur ditelan tanah namun pahala ilmunya yang diajarkannya tetap mengalir.
Sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya;
((إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاثة ؛ إلا من صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له)).
“Apabila anak adam meninggal terputuslah segala amalannya, kecuali tiga bentuk; sadaqah jariyah, ilmu yang bermamfaat, dan do’a anak yang sholeh”. (H. R Muslim).

  • Ilmu adalah pintu untuk segala kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini:
(( من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين))
“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk kebaikan, Allah (berikan) pemahaman kepanya dalam agama”. (H.R Bukhari dan Muslim).
Penulis: DR. Alimusri Semjan Putra, M.A.
Artikel www.dzikra.com